Yang Diperlukan adalah Kreatifitas

“Yang diperlukan sekarang adalah kreatifitas yang disertai kesungguhan,” begitu ucapan salah seorang tutor dalam pelatihan ToT di Hotel Purnama, Bogor, beberapa waktu lalu. Ucapan tersebut berkesan di hati saya karena disertai penjelasan dan langkah-langkah kerja yang menarik dan realistik untuk dilaksanakan. “Yang penting kita jangan berpangku tangan dan menyerahkan masa depan kita kepada orang lain. Tidak ada gunanya terlalu banyak mengeluh dan banyak alasan untuk mulai membangun diri. Setiap orang punya potensi, kan? Potensi itulah yang harus kita kembangkan dan kita berdayakan untuk memberdayakan potensi alam. Memang tidak mudah, tapi perlu dicoba. Sekali lagi, dimulai dengan kreatifitas. Lihat sekelilingmu. Bacalah peluang yang ada. Kalau di sekitar tempat tinggalmu banyak orang yang suka makan kangkung, cobalah untuk menanam kangkung sebelum orang banyak menanam kangkung. Tanamlah kangkung itu dalam enam atau tujuh petak secara berurutan agar kelak bisa dipanen secara bergiliran. Misalnya, hari ini petak pertama, besok petak ke dua dan seterusnya. Seminggu kemudian, petak pertama lagi.”

Beberapa tahun kemudian saya bertemu dengan salah seorang teman saya yang pernah sama-sama mengikuti pelatihan tersebut. Saya melihat banyak perubahan atas diri teman saya itu. Penampilannya sudah lebih baik dari beberapa tahun sebelumnya. Rupanya dia tidak lagi pengangguran dan luntang-lanting. Dia sudah jadi manajer meski kecil-kecilan. “Aku wiraswasta. Jadilah, kan? Aku tahu kau tak akan mengejekku karena aku tahu kau sangat menghargai pekerjaan wiraswasta, hahaha,” katanya. Lalu kami pergi ke rumahnya.
Dulu, ayah temanku ini seorang penjahit yang memiliki toko di Pasar 22 Ilir Palembang. Toko ayahnya ini nggak maju-maju. Setelah dia tamat kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang, dia coba terapkan ilmu yang diaperoleh dari pelatihan. Kebetulan lelaki muda ini berpenampilan supel, luwes, dan banyak teman. Dia coba mendekati teman dan kenalannya yang mungkin bisa diajak kerja sama, misalnya: guru olahraga, guru atau kepala TK, dan lain-lain. Dia mulai bertanya,”Biasanya nempah seragam olahraga di mana? Kalo nempah baju seragam TK di mana?” dan seterusnya, diikuti tawaran kerja sama, misalnya:”bagaimana kalau tahun ini nempah pakaian olahraga di tempatku saja? Jahitannya saya jamin bagus, dan harga bersaing,” dan seterusnya. Ternyata memang benar, orang Indonesia lebih menyukai kekeluargaan dan persahabatan.
Sejak itu, teman saya itu jadi tukang cari orderan untuk toko jahitan milik ayahnya yang ternyata mengalami kemajuan berkat kerja keras. Kadang sampai kebanjiran order. Saat order sedang melimpah, dia menghubungi tema-temannya yang memiliki keahlian menjahit untuk membantunya. Ayahnya beralih jadi tukang membuat pola dan memotong dasar/ bahan. Wah, dia juga bisa memberi peluang untuk teman-temannya, rupanya. Inilah dampak sikap kreatif dan sungguh-sungguh.

This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s